Komunitas Blogger

Komunitas blogger

El Bashiroh

Majalah El Bashiroh

موقف وسطى تجاه الإنترنت

موقف وسطي تجاه الإنترنت

Showing posts with label Akidah ahlus sunnah wal jama'ah. Show all posts
Showing posts with label Akidah ahlus sunnah wal jama'ah. Show all posts

Tuesday, February 3, 2015

Rahmatan lil 'Alamin, Antara Konsep dan Persepsi

(وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ))[الأنبياء:107]
(Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam).” (QS Al Anbiya’ : 107).


Menurut Ibn Mandzur dalam lisanul ‘Arob, Rahmat secara etimologis adalah al Riqqotu wa al Ta’athuf yang berarti kelembutan yang berpadu dengan rasa iba, atau dengan kata lain rahmat dapat diartikan dengan kasih sayang. Secara global, ayat ini menjelaskan bahwasanya nabi Muhammad Shallallahu’alaihi Wasallam adalah bentuk kasih sayang Allah kepada seluruh manusia.
Sebagaimana ayat al Quran lainnya, interpretasi dari frase rahmatan lil ‘alamin tersebut haruslah bersandarkan kepada terminologi syariat sesuai dengan konteks ayat tersebut diturunkan. Dalam prakteknya, interpretasi dari rahmat yang disebutkan dalam ayat tersebut nampaknya masih ambigu di kalangan masyarakat, baik muslim terlebih non muslim.

Rahmatan lil ‘Alamin Dalam Persepsi
Rahmat atau kasih sayang dalam persepsi masyarakat umum adalah kasih sayang tanpa diskriminasi, tanpa memandang agama, suku, ras dan sejenisnya. Namun dalam prakteknya, rahmat atau kasih sayang tersebut acapkali diinterpretasikan melewati batas koridor yang digariskan dalam agama.
Banyaknya kekerasan atas nama agama, sejarah perang antar agama terutama Islam vs Kristen selama berabad-abad dalam perang salib mengantarkan beberapa kaum intelektual dari kedua pihak untuk mulai mencari titik temu dan dialog antar agama agar terjadi kesepakatan damai di kedua belah pihak. Namun sayangnya, terkadang usaha-usaha perdamaian tersebut menabrak batas-batas aturan agama bahkan membuat karakteristik beberapa agama menjadi kabur. Sebut saja faham liberalisme dan sekularisme yang menjamur di kalangan pemuda muslim yang cinta damai, namun kurang memiliki dasar yang kuat dalam akidahnya. Ayat di atas termasuk ayat yang sering dijadikan legitimasi terhadap pandangan-pandangan mereka. Rahmat yang diartikan secara tekstual tanpa terlebih dahulu mengkaji secara mendalam tafsirnya kemudian dijadikan tendensi atas berbagai kritik terhadap hal-hal yang dianggap “ tidak rahmat”. Dengan ayat tersebut, kewajiban jihad dengan mengangkat senjata dipertanyakan, nahi munkar dianggap ekstrim, menyinggung ekslusifitas ajaran agama dianggap menyulut api sara,  bahkan toleransi dikatakan tidak sah jika tidak ikut serta dalam upacara seremonial agama lain.

Konsep rahmatan lil ‘alamin
Mengenai diksi ‘alamin, imam Abdul Jarir al Thobari meriwayatkan kontroversi pendapat ulama dalam memahami hal tersebut dalam tafsir beliau, apakah termasuk kalimat universal (al ‘Am) yang mencakup muslim dan non muslim, ataukah kalimat general dengan maksud spesifik ( al ‘Am urida bihi al khusus). Menurut Sa’id bin Jubair, sebagaimana diriwayatkan dari Sayyidina Abbas bin Abdul Muttholib bahwa diksi tersebut bersifat general. Dalam hal ini, Sayyidina Abbas berkata :

من آمن بالله واليوم الآخر كتب له الرحمة في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن بالله ورسوله عوفي مما أصاب الأمم من الخسف والقذف
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, ditetapkan untuknya rahmat di dunia dan akhirat. Namun barang siapa yang tidak beriman kepada Allah dan RasulNya, mereka tidak ditimpa adzab sebagaimana yang menimpa umat terdahulu, seperti ditenggelamkan atau di dihujani batu (sebagai rahmat bagi mereka)”.
Dalam riwayat lain :
تمت الرحمة لمن آمن به في الدنيا والآخرة , ومن لم يؤمن به عوفي مما أصاب الأمم قبل
“Rahmat yang sempurna bagi orang-orang yang beriman kepada Rasulullah di dunia dan di akhirat. Sedangkan bagi orang-orang yang enggan beriman, (bentuk rahmat bagi mereka adalah) dengan tidak ditimpa adzab sebagaimana yang menimpa umat terdahulu”.

Sedangkan menurut ibn Zaid, diksi lil ‘alamin tersebut adalah kalimat general dengan maksud spesifik, lil ‘alamin meskipun menggunakan kalimat yang general, namun cakupannya terbatas pada kaum muslimin saja. Dalam hal ini beliau berkata:
 فهو لهؤلاء فتنة ولهؤلاء رحمة ، وقد جاء الأمر مجملا رحمة للعالمين ، والعالمون هاهنا : من آمن به وصدقه وأطاعه
Maka beliau (Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam) bagi sebagian manusia adalah cobaan, sedangkan bagi sebagian yang lain adalah rahmah. Perkara ini (walaupun) disebutkan secara general dengan redaksi ‘alamin(sekalian alam), (namun) yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang beriman kepada beliau(Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam), membenarkan beliau dan menaatinya”.
Kesimpulannya, menurut pendapat versi ke dua, rahmat dalam ayat tersebut ekslusif untuk orang mukmin saja. Sedangkan menurut versi pertama, rahmat yang dimaksud adalah dengan ditiadakannya adzab secara langsung di dunia sebagaimana yang menimpa ummat terdahulu.
Jika dikorelasikan dengan ayat lain, ayat di atas juga memiliki penafsiran lain yang akan mementahkan beberapa interpretasi menurut persepsi masyarakat umum. Rahmat dalam ayat tersebut sebenarnya merupakan salah satu dari beberapa misi diutusnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wasallam di muka bumi. Dalam ayat lain disebutkan :
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ [سبأ:28]
“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan (basyiiran wa nadziiran), tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (QS. Saba’ : 28).
Berdasarkan ayat di atas, Misi lain dari diutusnya Rasulullah sallallahu ‘alahi wasallam ke muka bumi adalah sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, termasuk segala syariat beliau seperti amar ma’ruf dan nahi munkar, jihad dan sebagainya. Sebagai pengejawantahan dari ayat-ayat ini, seorang Muslim dalam interaksinya dengan orang lain, selain harus menerapkan watak rahmatan lil-’alamin, juga bertanggungjawab menyebarkan misibasyiran wa nadziran lil-’alamin.
Namun begitu, bukan berarti Islam adalah agama perang yang disebarkan dengan darah dan terror sebagaimana yang diisukan oleh kalangan Islamophobia. Tidak pula dengan memicu tindakan sparatis disertai rentetan kalimat takbir dengan menyerang pihak lain seperti yang difahami kalangan yang ekstrim dalam beragama. Konsep toleransi dan tanpa harus mengorbankan akidah masing-masing ummat beragama telah secara konkrit dijelaskan dalam surah al Kafirun yang intinya untuk saling membiarkan dalam menjalankan agama masing-masing tanpa saling mengusik satu sama lainnya. Sedangkan konsep rahmatan lil ‘Alamin tergantung kebijaksanaan kita dalam berdakwah sesuai dengan situasi dan kondisi objek dakwah. Dalam kondisi normal, usaha dakwah diprioritaskan menggunakan jalan hikmah, namun dalam kondisi terpaksa, perangpun adalah “rahmat” sebagai opsi terakhir agar non muslim yang mendapat hidayah tidak terhalangi oleh sikap orang kafir.
Terakhir, adalah hal yang sangat urgen untuk menjelaskan konsep yang benar mengenai interpretasi dari rahmatan lil ‘alamin, agar tidak terjadi interpretasi “ngawur” dengan menabrak rambu-rambu agama dalam penerapannya, juga untuk menepis asumsi kalangan non muslim tentang kontradiksi ajaran rahmatan lil ‘alamin dengan realitas yang diterapkan kaum muslimin. Wallahu a’lam (SY)

(Tulisan ini pernah dimuat di majalah al Bashiroh edisi Muharrahm-Shafar 1436 H rubrik Ngaji Tafsir)

Thursday, March 29, 2012

Memahami Secara Proporsional Kedudukan Kholik Dan Makhluk


Banyak orang yang keliru dalam memahami konsep perkara-perkara Polisemis(musytarok) antara kholik dengan makhluk. Atas dasar itulah, mereka mengira bahwa mengafiliasikan salah satu dari hak dan sifat tuhan kepada makhluk adalah sebuah bentuk kesyirikan.

Diantara perkara yang acapkali disalahfahami tersebut adalah khosois nubuwwah. Dengan berlandaskan persepsi bahwa Rasul adalah utusan layaknya manusia biasa, mereka menarik kesimpulan bahwa menyematkan  khosois tersebut kepada mereka sama saja dengan menyematkan sifat-sifat ketuhanan dalam diri seorang makhluk.

Pemahaman ini jelas sangat keliru. Hal ini dikarenakan Allah Swt memiliki hak prerogatif dalam  menganugrahkan apa yang dikehendakiNya tanpa ada batasan apapun. Sebab, anugrah tersebut tak lain merupakan kelebihan yang diberikanNya untuk mengangkat martabat makhluk yang dicintaiNya. Hal ini bukan berarti penyamaan personifikasi karakter ketuhanan dengan karakter manusiawi, sebab terdapat perbedaan yang amat substantif antara keduanya.

Apabila ada makhluk yang diberi anugrah dari salah satu hak dan sifat Allah tersebut, maka hal tersebut tentunya adalah hak dan sifat yang sesuai dengan statusnya sebagai manusia yang terbatas oleh takdir dan ketentuan Allah, bukan mutlak milik makhluk tersebut. Karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang lemah yang tidak bahkan tidak memiliki kekuasaan apapun bahkan atas dirinya sendiri,

Hal ini bisa dilihat dari banyaknya perkara yang awalnya “hanya” ditetapkan sebagai hak milik Allah Swt saja, akan tetapi Allah menganugerahkannya kepada Nabinya Saw. Meskipun begitu, hal tersebut tidak serta merta mengangkat beliau kepada derajat ketuhanan, atau menjadikannya sebagai sekutu bagi Allah ta'ala. Berikut ini akan kami sebutkan contoh kecil dari hak serta sifat Allah Swt yang juga dianugrahkanNya kepada Hamba-hambaNya.

Syafa'at
Pada dasarnya, syafaat adalah hak prerogatif Allah ta'ala. Allah ta'ala berfirman
قل لله الشفاعة ( الزمر : 44)
Katakanlah : “ Hanya kepunyaan Allah syafaat itu semuanya”

Akan tetapi, Allah ta'ala juga memberi Rasulullah Saw dan para kekasihnya “jatah” dari syafa'ah tersebut. Tentunya, konsep syafa'ah yang diberikan oleh Allah ta'ala berbeda dengan apa yang dimilikiNya. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya:
أنا أول شافع و مشفع
Aku adalah orang pertama yang memberi syafa'at dan diberi izin memberi syafa'at
Dalam riwayat lain juga dikatakan
يشفع يوما القيامة الأمبياء ثم العلماء ثم الشهداء
Ada tiga orang yang bisa memberi syafa'at di hari kiamat, para Nabi, ulama, dan syuhada
Mengetahui Perkara Ghaib
Perkara ghaib adalah hal rahasia yang hanya diketahui oleh Allah ta'ala. Namun, terkadang Allah ta'ala memberikan izin kepada sebagian hambanya untuk mengetahui rahasianya ini. Hal ini sebagaimana yang tersirat dalam firmanNya :
علم الغيب فلا يظهر على غيبه أحدا*إﻻ من ارتضى من ريول (الجن : 26,27)
(Dia adalah tuhan) yang mengetahui yang ghaib, maka dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridhaiNya
Hidayah
Selain perkara yang telah disebutkan, masih ada lagi hak Allah ta'ala yang dikaruniakan kepada sebagian Hambanya, diantaranya adalah masalah hidayah. Pada dasarnya, hidayah ini adalah milik Allah ta'ala semata. Allah ta'ala berfirman
إنك ﻻ تهدي من احببت و لكن الله يهدي من يشاء (القصص : 56)
ٍSesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendakiNya
Akan tetapi, sifat memberi hidayah tersebut juga disematkan kepada Rasulullah Saw dalam firmanNya :
و إنك لتهدي إلى صراط مستقيم (الشرى : 52)
Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus

Tentu saja kedua hidayah tersebut memiliki konsep yang berbeda. Hal tersebut dapat difahami oleh orang-orang yang berakal yang memahami betul batas antar kholik dan makhluk. Jika tidak, tentu Allah ta'ala akan menambahkan spesifikasi tertentu untuk sifat dan hakNya yang diberikan kepada makhlukNya. Akan tetapi hal tersebut tidak terjadi, bahkan Allah ta'ala menetapkan hidayah tanpa spesifikasi serta limitasi apapun . Hal itu dikarenakan kita semua dapat dengan mudah memahami perbedaan hal-hal tersebut dengan melihat afiliasinya. Apakah hal tersebut disandarkan kepada Allah ta'ala, atau kepada hambaNya.

Penalaran analogis dari apa yang telah kami paparkan, adalah implementasi etos ketuhanan dalam pribadi seorang makhluk. Hal ini seperti yang tercantum dalam Al qur'an tentang penyematan sifat  ri'fah dan rahmah kepada Rasulullah Saw dalam Firmannya :
بالمؤمنين رءوف رحيم ( التوبة : 128)
 Padahal dalam ayat lain, Allah ta'ala juga menyifati diriNya dengan sifat tersebut berkali-kali dalam Al qur'an. Diantaranya apa yang tercantum dalam surat at taubah :
رءوف رحيم( التوبة 117)
Meskipun begitu, kita tentu faham bahwasanya rouf dan rahmah Rasulullah Saw berbeda dengan rouf dan rohmahnya Allah Swt, meskipun dalam firman-firmanNya tersebut Allah ta'ala tidak “memperjelas“ sifat nabiNya tersebut dengan spesifikasi tertentu. Hal ini tak lain karena objek dari firman (Jawa: dawuh)  tersebut seharusnya dapat memahami batasan serta perbedaan antara hak dan sifat antara kholiq dan makhluk. Jika tidak, tentu Allah ta'ala akan menyifati RasulNya dengan tambahan spesifikasi seperti ra'fah ghoiru ra'fatina, dan rohim ghoiru rohmatina. Atau mengatakan rouf dan rohim tertentu, atau mengatakan roufnya manusia dan rahmahnya manusia. Akan tetapi hal tersebut tidak terjadi, bahkan Allah ta'ala menetapkan sifat ri'fah dan rahmah tersebut tanpa ada ikatan limitasi apapun. Dengan sangat gamblang, Allah ta'ala berfirman :
 بالمؤمنين رؤوف رحيم ( التوبة : 128)

Disarikan dari Mafahim yajib an tushohhah karangan Prof Dr Sayyid Muhammad bin 'alawi al Maliki Bab أمور مشترك بين الخالق و المخلوق

Wednesday, August 24, 2011

Resensi Buku Minhat al Hamid Syarah Jauharoh al Tauhid (منحة الحميد علي شرح جوهرة التوحيد)





Judul                : منحة الحميد علي شرح جوهرة التوحيد /Minhatul Hamid ‘ala syarhi Jauharotut Tauhid
Penulis             : Ust. Qoimuddin
Penerbit           : Ponpes Darul Lughah wad Da’wah
Tebal               : 351 Halaman




Diskusi Ilmiah Seputar Akidah
Seiring dengan maraknya trend gaya hidup hedonis di akhir zaman ini, penyakit apriori terhadap nilai-nilai agama yang menimpa sebagian besar manusia sudah mencapai strata akut. Sementara itu agama Islam tiada henti-hentinya menerima serangan rudal-rudal imprealisme dari  musuh-musuhnya. Berbagai sektor ajaran Islampun tak luput dari incaran mereka. Tak ayal, dalam tempo yang relatif singkat, seorang yang tadinya muslim telah berganti identitas menjadi kafir. Yang sangat memprihatinkan, fenomena transformasi identitas ini terjadi dengan begitu halus tanpa disadari oleh para pelakunya. Realita ini sekaligus menjadi justifikasi terhadap sabda Rasulullah saw
 يصبح الرجل مؤمنا و يمسى كافرا
ketika itu seorang yang mu’min di pagi hari menjadi kafir di sore hari.
Teologi, ilmu ketuhanan atau konsep ketuhanan serta ideologi merupakan aspek yang paling rentan mendapat serangan. Hal ini tak lain karena keduanya merupakan fondasi yang menjadi motor penggerak segala aktivitas seseorang. Aspek yang termasuk dalam diskursus ilmu akidah ini merupakan neraca sekaligus filter yang mampu melakukan seleksi terhadap faham, ideologi, serta pemikiran lain yang juga hidup berdampingan. Jika fondasi ini telah terkikis atau samasekali habis, seseorang sudah tidak lagi memiliki media untuk menilai, menimbang, apalagi menyeleksi faham lain yang mengitarinya.
Rupanya hal inilah yang mengetuk hati ustadz Qoimuddin, ketua selaligus penanggung jawab Qismu Tarbiyah di Pondok pesantren Darul Lughah wad Da’wah untuk ikut memberikan andil dalam melindungi kemurnian akidah Islam dari berbagai serangan ideologi yang saat ini sedang gencar-gencarnya. Tak cukup hanya dengan kuliah yang beliau sampaikan terhadap kader-kader ulama (baca : santri), beliau juga menulis sebuah kitab dalam wacana teologis yang berjudul Minhatul Hamid yang merupakan komentar dari nadzom Jauharotut Tauhid karangan Syekh Ibrohim Al Laqoni (w. 1041 H).
            Secara garis besar kitab ini mengklasifikasi pembahasan ilmu tauhid menjadi empat kategori. Yaitu uluhiyyat, nubuwwat, sam’iyyat, dan ruhaniyyat. Sementara Kajian utama kitab ini tak lepas dari dua topik penting bagi umat Islam, yaitu akidah (teologis) dan tasawwuf (akhlak).
            Kajian dimulai dengan prolog berupa dasar-dasar ilmu tauhid dan hal-hal transendental yang wajib diketahui dan diimani oleh setiap orang. Seperti Definisi ilmu tauhid, objek pembahasan,serta hal-hal yang berhubungan dengan ma’rifat Allah ta’ala, hukum iman seorang muqollid, masa fatroh serta bentuk implikatifnya.
            Dalam konteks kekinian, muatan-muatan yang tersaji dalam beberapa sub pokok bahasan dalam kitab ini lebih diarahkan pada rehabilitasi akidah. Implikasinya, kitab ini memiliki konsep pembahasan dan argumentasi yang agak berbeda dengan kitab-kitab yang senafas dengannya.
            Dari sisi pembahasan, kitab ini tidak menerapkan konsep studi komparatif  seperti kebanyakan ulama dalam kitab-kitab mereka.  Jika kita menelaah karangan ulama-ulama ketika menyinggung masalah teologis, baik klasik maupun kontemporer semisal Usul fiqh Islami karangan Dr. Wahbah Az Zuhaili dan Rawai’ul bayan karangan Dr. Ali Ash Shobuni, kita akan menemukan komparasi berbagai  sekte ideologi dalam Islam seperti Asy’ariah, mu’tazilah dan maturidiyyah. Penulis lebih memfokuskan kajian pada madzhab asy’ariah yang merupakan madzhab tauhid dengan kuantitas penganut tebesar.
            Sedangkan dari sisi argumentasi, penulis cenderung menggunakan dalil naqli dan sedikit sekali menggunakan dalil aqli (rasio). Kalaupun ada, hanya pada beberapa masalah yang mengharuskan menggunakan rasio. Berbeda dengan pendahulunya semisal Hasyiyah Sanusi yang banyak sekali menggunakan rasio sebagai tendensi. Hal ini dikarenakan kitab-kitab teologi terdahulu lebih diorientasikan untuk mempertahankan ideology asy’arisme serta membantah ideologi-ideologi lain, khususnya mu’tazilah, yang telah terkontaminasi oleh kesesatan sebagian filsafat yang terus menyerang asy’arisme.
            Dari sisi metodologi penyusunan, kitab ini memiliki karakteristik yang mirip dengan kitab Al Ajwibah Al Gholiyah karangan Al Habib Zein bin Ibrohim bin Smith. Konsep Tanya jawab yang diterapkan memiliki nilai plus tersendiri dalam memudahkan orang-orang yang mengkaji kitab ini. Pertanyaan-pertanyaan seputar teologi disusun dengan rapi dan dijawab dengan sajian dalil-dalil yang  ilmiah-argumentatif dari alqur’an maupun hadis. Kerangka penulisannya memiliki peta yang jelas,terarah dan sistematis. Konsep seperti ini justru menepis statement  Imam Abu Hamid Al Ghazali dalam karyanya Iljamul ‘Awam, yang intinya melarang orang untuk menanyakan tentang hal-hal transendental karena dunia akidah adalah area rawan yang tidak semua orang bisa melaluinya, sedangkan orang awam tidak akan pernah faham.
            Kitab ini juga memiliki kajian khusus tentang beberapa kerancuan (syubuhat) yang sering dilontarkan rival-rival ahlus sunnah, baik intern agama maupun antar agama. Hal ini akan membantu pengkaji kitab ini dalam membantah tuduhan-tuduhan sarkastis yang acapkali dilontarkan untuk mengotori maupun melemahkan keyakinan umat Islam terhadap ahlus sunnah. Kolaborasi dalil yang dikemas dengan metodologi yang tepat membuat argumentasi penulis begitu kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
            Sayangnya, meskipun argumentasi yang dilontarkan oleh penulis bersifat argumentatif-referentif, penulis tidak langsung mencantumkan referensinya dalam bentuk footnote seperti kebanyakan penulis kontemporer. Hal ini akan menyulitkan pengkaji kitab ini untuk mereferensi kitab ini dan melakukan kajian lebih lanjut. Meskipun begitu, di akhir kitab ini penulis mencantumkan 56 referensi primer maupun sekunder dalam daftar pustaka. Meski  tentunya tidak mudah untuk mengkaji referensi tersebut satu-persatu terutama bagi pemula, mengingat sebagiannya adalah kitab-kitab tebal yang berjilid-jilid.
            ‘Ala kulli hal, kitab ini tidak hanya wajib dibaca, baik oleh kalangan intelektual atau orang awam. Namun juga sebagai jawaban atas obsesi rival-rival ahlus sunnah yang sering mengusik keimanan kita dan mewaspadai berbagai macam aliran yang tidak sesuai dengan faham ahlus sunnah wal jama’ah. Buku ini teramat penting dimiliki, sebagai benteng akidah dari berbagai fitnah ahli bid’ah yang banyak muncul di akhir zaman dengan bahasa yag ringan dan mudah difahami.