Komunitas Blogger

Komunitas blogger

El Bashiroh

Majalah El Bashiroh

موقف وسطى تجاه الإنترنت

موقف وسطي تجاه الإنترنت

Showing posts with label pemikiran santri. Show all posts
Showing posts with label pemikiran santri. Show all posts

Friday, February 24, 2012

Rasionalitas Intelejensi Yahudi, Tradisi Islam yang Ditinggalkan

Bila kita renungkan, golongan manakah yang banyak menghasilkan penemuan spektakuler dalam bidang teknologi, kedokteran politik, ekonomi, sosial dan bidang keilmuan lainnya ? Tentu yang muncul di benak kita adalah bangsa yahudi. Tanpa bermaksud menaifkan salah satu agama, memang bangsa yahudilah yang dikenal sebagai produsen berbagai penemuan yang spektakuler. Produk seperti internet, google, yahoo, nokia, blackberry, facebook, senjata nuklir dan berbagai penemuan revolisioner lainnya, semuanya merupakan produk yahudi yang sangat bermanfaat dalam kemajuan peradaban dan teknologi seluruh bangsa di dunia. Bangsa yahudi sejak dahulu dikenal sebagai bangsa cerdas yang sangat produktif dalam berbagai penemuan yang bermanfaat bagi manusia.
Pernahkah anda mendengar nama albert Einstein? Kecerdasan tokoh fisika yang dikenal dunia ini telah mempengaruhi miliaran manusia di muka bumi sebagai tokoh pertama yang menemukan teori relativitas yang banyak menyumbang bagi pengembangan mekanika kuantum, mekanika statistik, dan kosmologi. Lalu siapakah Einstein? Jawabannya adalah orang yahudi. Dalam dunia modern kita mengenal Mark Zuckerberg. Penemu dan pendiri situs social networking facebook yang telah merubah gaya hidup mayoritas penduduk dunia, berhasil membuatnya sebagai manusia terkaya dalam usia yang relatif muda. Sebelumnya tokoh yang memilih drop out dari Harvard university ini berhasil menembus sistem keamanan jaringan Harvard yang dikenal sebagai sarangnya hacker-hacker jenius dunia dan membuat kegaduhan diantara mahasiswa Harvard sedangkan dia dalam keadaan mabuk.
Selain dari realita yang disebutkan diatas, kecerdasan orang yahudi juga mendapat justifikasi dari berbagai kitab suci agama di dunia ini tak terkecuali Al Quran. Dalam Al Qur’an dijelaskan bahwa Allah ta’ala telah menjadikan bangsa mereka memiliki kelebihan diatas rata-rata manusia.
يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اذْكُرُوا نِعْمَتِيَ الَّتِي أَنْعَمْتُ عَلَيْكُمْ وَأَنِّي فَضَّلْتُكُمْ عَلَى الْعَالَمِينَ ( البقرة 47)


“Hai bangsa bani israel, ingatlah akan ni’mat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu dan bahwasanya Aku telah melebihkan kamu atas segala umat"
[Al Baqarah ayat 47]

Sayangnya, kecerdasan orang yahudi yang diatas rata-rata tersebut seringkali salah disikapi oleh bangsa-bangsa lainnya di dunia. Bagi penganut faham zionisme, yahudi dianggap sebagai bangsa pilihan tuhan yang diberi kelebihan khusus yang tidak diberikan kepada bangsa selain yahudi. Oleh karenanya kecerdasan yang mereka miliki tersebut tidak bisa ditiru. Sementara dalam literatur islam, kelebihan-kelebihan yahudi tersebut dianggap sebatas istidroj tanpa ada unsur rasionalitas di dalamnya. Kelebihan tersebut diberikan kepada mereka hanya sebatas untuk membuat azab yang mereka terima di hari pembalasan lebih menyakitkan.
Padahal jika kita telusuri lebih jauh adat-istiadat bangsa yahudi, dapat kita tarik kesimpulan bahwa kecerdasan bangsa yahudi bukanlah sebuah mitos atau semata-mata takdir tuhan. Kecerdasan yang mereka miliki tidak semena-mena muncul tanpa ada sebab ilmiah. Sebab, pada dasarnya setiap bangsa dan manusia manapun di dunia ini memiliki potensi yang sama yang diberikan oleh Allah ta’ala dalam semua sektor tak terkecuali sisi kecerdasannya. Usaha manusialah yang bisa membedakan nasib, kecerdasan, dan kemampuan antara satu dengan yang lainnya.
Menurut penelitian Dr Stephen Carr Leon, seorang yang menjalani housemanship selama tiga tahun di beberapa rumah sakit di Israel, kecerdasan yang dimiliki oleh bangsa yahudi telah dibentuk secara turun-temurun bahkan sejak masa sebelum mengandung. Bangsa yahudi sejak dahulu kala telah memiliki tradisi yang memprioritaskan improvisasi kecerdasan keturunan mereka. Doktrin fasisme yang telah ditanamkan dalam diri tiap generasi mengharuskan mereka untuk tidak mengambil keturunan selain dari sesama yahudi yang memiliki kecerdasan seperti mereka.
Disamping menjaga genetika mereka, bangsa yahudi juga memiliki tradisi pembinaan otak sejak masa pra-kelahiran. Sejak masa kandungan, para orangtua yahudi telah terbiasa memberikan pendidikan terhadap janin mereka dengan aktivitas rutin berupa kebiasaan mendengarkan serta bermain musik dan mengerjakan soal-soal matematika yang terus berlanjut sampai masa pasca-kelahiran bahkan sampai sang anak tumbuh dewasa. Disamping itu, mereka juga sangat menjaga makanan yang masuk ke tubuh mereka. Menu makanan mereka merupakan menu pilihan yang telah terbukti dapat memacu kecerdasan mereka serta keturunan mereka.
Bangsa yahudi juga sangat menjaga diri serta keluarga mereka dari barang-barang yang berpotensi dapat merusak kecerdasan mereka. Barang-barang seperti minuman keras, nikotin, maupun rokok merupakan hal yang tabu bagi mereka. Orang yahudi tidak akan segan-segan untuk mengusir siapapun yang nekat merokok di sekitar rumah mereka. Bangsa yahudi juga memiliki solidaritas yang tinggi terhadap saudara mereka. Pantang bagi seorang yahudi untuk merokok di tempat umum. Bahkan apabila seorang yahudi perokok melihat ada seorang wanita hamil di jalan raya, ia akan segera menghentikan aktivitasnya tersebut meskipun ia tak mengenalnya. Satu fenomena yang sangan mengesankan dikalangan yahudi, seorang pecandu rokok akan segera berhenti total ketika mengetahui istrinya mengandung, hal it uterus berlanjut sampai sang anak berusia 7 tahun. Itupun biasanya mereka merasa malas untuk menghisap rokok lagi.
Dalam dunia akademis, Bangsa yahudi memiliki kurikilum pendidikan serta konsep belajar yang sistematis serta selalu dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. Pelajar yahudi tidak hanya dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan secara teoritis, mereka bahkan dituntut untuk  memiliki penemuan baru sejak mereka masih duduk dalam bangku sekolah dasar. Prinsip selalu bertanya dan kritis dalam belajar, serta tidak pernah menganggap mutlak teori yang ada, memotivasi mereka untuk selalu melakukan penelitian dan penemuan terbaru yang jauh lebih sempurna. Segala tradisi dan aktivitas yang dilakukan oleh bangsa yahudi diprioritaskan untuk menghasilkan generasi yang benar-benar cerdas dan aktif serta produktif. Orang yahudi akan sangat malu jika memiliki keturunan yang bodoh atau memiliki kecerdasan rata-rata standar bangsa non-yahudi.
Tradisi Islam Yang Ditinggalkan
Dari paparan diatas, dapat kita ambil kesimpulan bahwa kecerdasan yang dimiliki oleh orang-orang yahudi bukan semata-mata takdir dan karunia tuhan. Lebih dari itu, kecerdasan yang mereka miliki adalah hal yang rasional dan melalui proses yang dapat dijelaskan secara ilmiah. Bahkan bangsa manapun selain yahudi memiliki potensi yang sama untuk memiliki kecerdasan seperti yang mereka miliki. Namun yang mungkin tak terpikirkan oleh kita, ternyata rahasia kecerdasan orang yahudi tersebut telah diajarkan oleh agama kita bahkan sempat dipraktekkan oleh kaum muslimin selama beberapa abad!!!
Sejak masa Rasulullah Sallalahu ‘alaihi wa sallam, kaum muslimin sudah terbiasa hidup dengan teratur bahkan melebihi kaum yahudi. Sejak kurun awal generasi islam, tradisi menjaga keturunan serta makanan yang dikonsumsi merupakan prioritas kaum muslimin. Hanya saja, berbeda dengan tradisi yahudi yang bersifat rasional dan berdasarkan pada pengalaman empiris, tradisi kaum muslimin tersebut lebih bersifat metafisik dan didasarkan pada pengejawentahan ajaran islam. Konsep kafa’ah misalnya, merupakan ajaran islam yang mengandung hikmah dalam urgensi menjaga keturunan, Konsep waro’ dalam mencari rizki merupakan langkah islam dalam menuntun ummatnya untuk berhati-hati dalam makanan yang masuk ke tubuh mereka.
Sebagai agama yang ajarannya bersumber langsung dari Allah ta’ala sang pencipta semesta, tak ada satupun barang yang berbahaya bagi manusia yang tidak diharomkan dalam agama islam. Jika kita renungkan, dari sekian banyak konsumsi yang diharomkan, Khomer  ternyata mendapat perhatian lebih. Berbeda dengan babi dan makanan berbahaya lainnya, khomer memiliki keistimewaan dengan hukumannya ditentukan langsung oleh syariat (had). Hal ini tak lain karena pengaruh khomer yang berdampak langsung pada kerusakan akal dan kecerdasan manusia. Secara implisit dapat kita simpulkan, bahwa agama islam mengajarkan ummatnya untuk memberikan perhatian lebih dalam menjaga akal dan kecerdasannya.
Ummat islam juga memiliki tradisi mendidik anak mereka bahkan sebelum mereka berada di kandungan. Dalam ajaran islam, seorang ayah memiliki kewajiban untuk mencarikan ibu yang baik bagi calon anaknya begitu juga sebaliknya. Dalam masa kehamilan, Jika bangsa yahudi merangsang kecerdasan janinnya dengan mendengarkan dan bermain musik, orangtua muslim memembacakan untuk jabang bayi mereka ayat-ayat suci Al Qur’an yang jauh lebih berpengaruh terhadap kecerdasan janin.
Konsep pendidikan islam bahkan lebih unggul dari pendidikan yahudi, jika bangsa yahudi hanya metitikbertkan pendidikan pada kecerdasan intelektual atau intellectual quotient (IQ), sistem pendidikan islam memberikan perhatian lebih terhadap kecerdasan emosional atau emotional quotient(EQ) dan kecerdasan spiritual atau spiritual quotient (SQ). Implikasinya, generasi kaum muslimin memiliki variasi kecerdasan yang lebih unggul dari generasi yahudi. Pelajar muslim tidak hanya memiliki tingkat intelektualitas yang tinggi, tetapi juga memiliki akhlak dan kepribadian yang sholeh. Imam syafi’I merupakan satu dari ribuan intelektual muslim yang tidak hanya memiliki kecerdasan intelektual yang mengagumkan, disamping beliau sanggup menghafal langsung hal apapun yang pernah dilihat dan didengarnya, beliau juga dikenal sebagai sosok yang soleh dan dermawan.
Yang sangat disayangkan, tradisi baik yang bersumber langsung dari ajaran islam ini telah lama ditinggalkan oleh kaum muslimin. Seiring dengan berjalannya waktu, minat dan semangat kaum muslimin dalam mendalami dan menjalankan sunnah semakin memprihatinkan. Tradisi yang dulunya sempat melahirkan generasi mujtahidin dan ilmuan dengan tingkat kejeniusan dan pengetahuan intelektual yang luarbiasa ini, kini hanya tinggal torehan-torehan emas dalam buku-buku sejarah. Gelar mujtahid yang dulunya berhasil dicapai oleh banyak intelektual muslim, menjadi sebuah strata yang absurd untuk dicapai generasi muslim sejak abad ke 4 hijriah.
Bertolak dari pembahasan singkat ini, ummat islam harus pandai-pandai membawa diri agar bersikap moderat (tawassuth). Diawali dengan membuka kesadaran bahwa kecerdasan dan hegemoni bangsa yahudi adalah sebuah realita, dan hal tersebut harus diterima sebagai tantangan yang harus dihadapi. Bukan justru melakukan kegiatan kontraproduktif dengan rasa inferioritas dan menjadikan mereka sebagai kiblat. Akan tetapi dengan kembali kepada ajaran Allah ta’ala dan sunnah nabinya Muhammad shollalahu ‘alaihi wasallam. Tentunya dengan konsep yang lebih rasional dan modern, tanpa harus mengorbankan keimanan kita terhadap syariat tersebut atau hanyut dalam modernitas yang bertetangan dengan esensi syariat islam. Dengan tetap mempertahankan tujuan awwal, yaitu menjalankan syariat Allah ta’ala dan sunnah nabinya Muhammad shollalahu ‘alaihi wa sallam dengan ikhlas.Wallahu A’lam.

Friday, August 12, 2011

Wabah Sepilis,Selangkah lagi menuju Neo-Atheis



Dewasa ini, kancah pemikiran agama di Indonesia semakin disemarakkan dengan munculnya berbagai aliran dan pemikiran baru yang mengatasnamakan Islam. Seakan tak mau kalah dengan masyarakat akar rumput yang memang minim akan pengetahuan agama, kaum akademispun ikut serta memberikan sumbangsih inovasi pemikiran yang mendobrak pemikiran aksiomatif yang telah berumur ratusan tahun.
Kholif Tu’rof! Nyelenehlah kamu akan terkenal. Mungkin terinspirasi dari adagium arab inilah sekelompok mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di bandung “menciptakan” sebuah inovasi baru yang mereka sebut sebagai kawasan anti tuhan. Kawasan dimana hal-hal yang berbau agama dan religius ini disingkirkan bahkan diinjak-injak, hanyalah representasi kecil dari sekian banyak indikasi mewabahnya penyakit sepilis ( sekularisme, pluralisme, liberalisme ) yang semakin meluas di kalangan generasi intelektual muda kaum muslimin. Jika kita analogikan dengan dunia kedokteran, maka penyakit sepilis ini merupakan bentuk implikatif dari virus-virus filosofis yang disebarkan oleh orientalis-orientalis dari kalangan musuh-musuh islam.
Yang lebih riskan, virus-virus tersebut justru ditebarkan secara sporadis di perguruan-perguruan tinggi islam yang memegang peranan cukup krusial dalam mencetak generasi-generasi muda bangsa ini. Kurikulum perguruan tinggi yang telah disusun secara sistematis dan diakui kualitasnya, terbukti gagal dalam melindungi peserta didiknya dari hegemoni pemikiran barat modern maupun pos-modern yang jelas-jelas bertentangan secara diametral dengan metode pemikiran yang telah diakui validitasnya oleh ulama-ulama klasik maupun kontemporer. Melalui kuliah-kuliah yang disampaikan oleh dosen-dosen opsidentalis, proses infiltrasi virus-virus tersebut dilakukan secara halus terhadap peserta didik dengan dalih demokrasi dan kebebasan berpendapat.

Ditambah lagi dengan kultur negatif bangsa kita yang mudah kaget dan terpengaruh dengan budaya baru merupakan jalan tol masuknya virus-virus tersebut dan berhasil merenggut banyak korban dari peserta didik. Virus- virus tersebut adalah skeptisisme, relativisme dan adnotisime yang berakibat pada munculnya wabah sekularisme, pluralisme dan liberalisme. Yang jika hal ini dibiarkan terus tak menutup kemungkinan akan mencapai stadium yang lebih akut berupa neo-atheisme atau komunis model baru.
Dalam filosof kedokteran, sebuah penyakit selalu disertai dengan virus atau penyebab yang mendahuluinya. Untuk membasmi penyakit tersebut harus dilakukan dengan membasmi virus-virus tersebut. Bertolak dari hal ini, untuk dapat membasmi wabah sepilis tersebut harus terlebih dahulu kita mengenal klarifikasi virus-virus tersebut yang merupakan substansi dari wabah tersebut berikut dampak penyakit yang ditimbulkan. Dengan mengetahui kerancuan-kerancuan substansi wabah tersebut, maka ideologi yang dibangun diatasnya akan runtuh dengan sendirinya karena fondasinya yang lemah dan runtuh terlebih dahulu. Jadi seperti efek kartu domino, ketika penyangganya roboh maka yang lain akan ikut roboh semua.
Virus pertama adalah virus relativisme, virus yang diprakarsai oleh para sophist (shufastho’iyyah) ini akan membawa korbannya untuk tidak meyakini kebenaran mutlak, gejala awal orang yang terjangkit penyakit ini adalah sikap anti otoritas. Mereka beranggapan bahwa yang bersifat absolut hanyala tuhan, selain tuhan adalah relatif. Aromanya seperti islami, tapi sejatinya malah menjebak. Mulanya seperti berkaitan dengan masalah ontology, selain tuhan adalah relatif (mumkinul wujud), namun ternyata dibawa pada persoalan epistemology. Al qur’an yang diturunkan dalam bahasa manusia (arab), hadis yang disabdakan nabi, ijtihad dan konsesus ulama dan sebagainya hanyala relatif belaka dan tidak absolut. Sebab semua dihasilkan dalam waktu dan ruang manusia yang menyejarah. Pada tahapan berikutnya, orang tersebut akan menolak otoritas islam sebagai agama yang absolut dan akan berasumsi bahwa semua agama adalah sama dengan tendensi bahwa semua agama menyeru kepada kebaikan. Inilah yang disebut dengan penyakit sekularisme.
Setelah persepsi bahwasanya semua agama sama mulai merasuk dan daya tahan akidah korban mulai melemah karena virus relativisme, berikutnya mulai masuk virus yang dinamakan skeptisisme. Pada tahapan ini korban mulai bersikap skeptis (ragu) terhadap ajaran agama yang dianutnya. Agama dianggap tidak lagi mampu mengakomodir problematika manusia yang semakin kompleks. Mobilitas agama hanya terbatas di ranah ceremony ritual (ibadah), di luar itu agama tidak memiliki otoritas untuk menyentuhnya, termasuk dalam konteks politik dan hukum. Negara teokrasi akan disingkirkan karena dianggap akan menghambat kemajuan dan liberalisasi pemikiran. Seperti yang terjadi di eropa masa renaissance dan di kekhalifahan Turki yang dipelopori oleh Mustofa Kemal Pasha. Hukum Allah akan dianggap kejam karena dianggap paradoks dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia (HAM). Amar ma’ruf hanya dilakukan di masjid saat khutbah jum’at. Sedangkan nahi munkar yang belum mendapat legitimasi hukum dari pemerintah akan dicap sebagai tindak kriminal bahkan kudeta terhadap pemerintah.
Fenomena seperti ini sebenarnya hanyalah reka ulang (replay) dari apa yang pernah menimpa barat post-modern. Pemikiran-pemikiran seperti ini pernah membuat barat babak belur. Agama barat (Kristen) dianggap lawan dari ilmu pengetahuan, sebab realitanya doktrin-doktrin Bible (Kitab Suci Injil, yang merupakan landasan utama agama Kristen, seperti posisi al-Quran dalam Islam) memang berselisih dan berbeda dengan ilmu pengetahuan (sains) sebagaimana terjadi dalam kasus perbedaan persepsi dalam bentuk bumi yang bundar yang mengakibatkan vonis mati atas Gallileo. Akibatnya, gereja tak lagi memiliki pengaruh karena dianggap bukan sebagai otoritas agama. Tokoh agama tidak lagi memiliki wibawa karena dianggap bukan sebagai otoritas (mengenai) Tuhan. Bibel tidak lagi kredibel karena dinilai bukan otoritas kebenaran. Bahkan Tuhanpun tak lagi dianggap maha kuasa, karena otoritasnya dinilai kadaluarsa. Inilah imbas dari sekularisme yang siap mereduksi vokalitas ajaran agama bahkan akidah dalam kehidupan bangsa kita.
Yang lebih riskan, ternyata wabah sekularisme ini tidak hanya menjangkit pelajar dari instansi pendidikan sekuler saja, tetapi juga menyerap sebagian lembaga pendidikan konservatif di negara kita. Sebab jika dilihat dari esensi sekularisme, bukan hanya mereka yang menafikan posisi agama dalam hal keduniaan saja yang disebut sekularisme, tetapi juga mereka yang menafikan peran dunia dalam hal keagamaan. Dampak negatifnyapun tidak kalah berbahaya, seperti munculnya fatwa error yang merupakan implikasi dari kekurangtahuan oknum yang mengeluarkan fatwa. Sedangkan dalam spektrum yang lebih luas adalah minimnya jumlah masyarakat yang memiliki pengetahuan mendalam mengenai masalah agama bahkan dapat dikatakan nihil, sehingga proses sekularisasipun semakin merajalela.
Virus terakhir adalah adnotisisme, virus ini merupakan virus yang paling berbahaya dibanding dengan virus-virus sebelumnya. Jika kita komparasikan dengan imbas dari virus-virus sebelumnya, penyakit yang dibawanya adalah penyakit berstadium akut. Sebab jika korban dari virus-virus sebelumnya “hanya” meragukan otoritas agama dan perannya dalam kehidupan kita, virus ini akan memaksa seseorang untuk bersikap apriori terhadap agama. Bahkan tidak jarang korban mulai berani menjadikan agama sebagai obyek apresiasi rasio dan hawa nafsunya sehingga agama menjadi jajahan dan dikendalikan oleh manusia. Virus inilah yang membidani lahirnya penyakit liberalisme yang saat ini tengah santer di perguruan-perguruan tinggi (Islam) terutama dari kalangan intelektual muda. Sesuai namanya, isme yang satu ini mengajarkan kebebasan di segala sektor termasuk kebebasan dalam pemikiran dan berapresiasi. Ini adalah salah satu tren pemikiran yang berkembang dan menghegemoni Barat saat ini. Di Barat, kebebasan sebagai kebebasan yang seluas-luasanya yang dalam bidang keagamaan bisa diartikan sebagai penentangan terhadap otoritas agama dan metodologi yang telah digariskan bertahan selama ratusan tahun.
Corak pemikiran inilah yang menjadi cara berfikir muslim modernis. Inilah representasi utuh model pemikiran dari barat post modern sebagai lanjutan dari barat modern. Naifnya, pemikiran post modern ini justru melahirkan para mufassir yang anti tafsir, kritikus hadist yang anti hadist, pengkaji fiqih yang anti fiqih dan seterusnya. Tentu saja corak pemikiran ini berbeda dengan apa yang difahami dan diaplikasikan oleh para ulama islam selama ratusan tahun sejak periode sahabat hingga saat ini.
Seperti statemen yang dinyatakan oleh Nasr Hamid Abu Yazid bahwa Al-Qur’an adalah produk budaya (Muntajuts-Tsaqofi) dan sekaligus produsen budaya (Muntijuts-Tsaqofi). Adapun al-Quran yang mutlaq Kalamullah adalah yang berada di lauh mahfudz saja. Ada pula yang berani menginjak Ismul Jalalah dengan berdalih bahwa yang diinjak “hanya” tulisan saja. Ada pula yang mengatakan bahwa akhirat tidak kekal, tidak ada adzab kubur, Nabi Adam dilahirkan dan sebagainya seperti pendapat Agus Musthofa. Tentu saja ini akan memerangkap agama ke dalam petaka kehancuran baik secara konsep maupun penerapan. Karena rasio tiap orang berbeda maka imbasnya islam sebagai konsep dan penerapan akan berbeda sesuai dengan kecenderungan pemikiran masing-masing orang dan apresiasi mereka terhadap rasionalitas. Dalam statemen Nasr Hamid misalnya, akan tercipta pemahaman keislaman versi Nasr Hamid.
Keterbatasan akal manusia dalam menalar kebenaran semakin terlihat melalui perbedaan hasil pemikiran mereka ketika berusaha mencapai kebenaran. Ranah ideologi agama merupakan ajaran sakral yang bermula dari tuhan sebagai otoritas tunggal, bukan mainan yang bisa diotak-atik sesukanya oleh logika dan rasio manusia.
Kesimpulan
Kesimpulan
Virus di atas dengan wabah-yang dibawanya adalah ancaman besar bagi eksistensi keagaman di negara kita. Bukan saja agama islam,tetapi juga agama lain yang masih mengakui adanya tuhan untuk disembah. Jika kita renungkan, sejatinya virus-virus tersebut menuntun kita perlahan-lahan untuk menjadi kaum paganis yang anti tuhan. Dimulai dari tahap meragukan kebenaran agama yang kita anut, sehingga akan berasumsi tidak ada satupun agama yang memiliki kebenaran mutlak.
Fase berikutnya kita akan mulai meragukan absolutitas agama kita,sehingga agama hanya dijadikan sebagai sarana dalam ceremony ritual dan “haram” untuk ikut mengakomodir stabilitas kehidupan manusia. Berikutnya dalam stadium akut, kita mulai berani menjajah dan mengendalikan agama dengan rasio dan hawa nafsu yang tentunya tidak pernah toleransi dengan nilai-nilai agama manapun. Dengan melihat indikasi-indikasi diatas, bukanlah suatu absurdisitas jika klimaks dari semuanya adalah kita terjerat ke dalam ideologi Neo-atheisme.Tentunya Neo-atheisme yang satu ini lebih dari sekedar atheisme yang pernah kita enyahkan dari negara kita dulu, sebab isme yang satu ini ditanamkan secara bertahap dan sistematis dari kurun waktu yang tidak sebentar sehingga memiliki ranting dengan dahan dan akar yang telah mendarah daging dikalangan orang-orang terpelajar dari generasi muda yang tentunya akan menjadi pemimpin yang mengarahkan dan mengatur negara.
Melihat dari betapa riskan bentuk implikatif dari wabah-wabah ini, maka sudah seyogyanyalah bagi kita khususnya kalangan terpelajar untuk membentengi diri serta ideologi yang telah dipegang teguh oleh pendahulu kita, dan semaksimal mungkin berusaha memerangi virus-virus dan wabah-wabah tersebut agar akidah dan ideologi yang telah bertahan ratusan tahun dinegara kita tidak digusur oleh ideologi-ideologi atheis yang baru datang kemaren sore dan jelas paradoks-antagonis dengan kultur bangsa kita yang agamis religuis. Wallahu A’lam.